Gejolak di Balik Buih Bir: AGI Bar, Laboratorium Sosial Ekonomi AI Tiongkok yang Merugi

Admin Neorix
47 Min Read

Oleh Neorix.id

Di sudut jalan Inno Way, Zhongguancun, sebuah bar kecil bernama AGI Bar telah menjadi lebih dari sekadar tempat nongkrong. Di sini, para insinyur dan pendiri startup AI berkumpul, bukan untuk melupakan masalah, melainkan untuk meracik masa depan. Namun, di balik segelas buih bir dan janji token AI gratis, tersimpan sebuah narasi ekonomi yang pahit—sebuah cermin dari paradoks yang melanda seluruh industri kecerdasan buatan di Tiongkok.

Lebih dari Sekadar Bir: Sebuah Ekosistem Mini

Dengan nama yang merujuk pada Artificial General Intelligence, bar yang didirikan oleh pengembang AI independen, Song De, pada musim panas 2025 ini, telah menjelma menjadi pusat gravitasi bagi ekosistem AI Tiongkok . Lokasinya yang strategis, diapit oleh kampus elit Universitas Tsinghua dan Peking serta kantor raksasa teknologi seperti DeepSeek dan Microsoft, menjadikannya tempat bertemunya para talenta terbaik .

Suasana di dalam AGI Bar adalah perpaduan unik antara kafe komunitas dan laboratorium teknologi. Dindingnya dipenuhi logo dan merchandise dari perusahaan AI Tiongkok ternama . Menu minumannya pun penuh dengan kiasan in-joke industri, dengan bir andalan bernama “AGI” yang harganya hanya 9,9 yuan atau sekitar US$1,5 . Namun daya tarik utamanya bukanlah bir murah, melainkan token AI gratis. Dengan memesan minuman dan terhubung ke Wi-Fi, pelanggan dapat mengakses token DeepSeek tanpa batas untuk coding, yang berjalan di atas dua komputer Nvidia DGX Spark yang dipajang di dalam bar .

Konsep ini adalah perwujudan dari keyakinan Song De bahwa “AI seharusnya seperti WiFi”—sebuah utilitas publik yang mudah diakses, seperti air dan listrik . Nama resmi bar dalam bahasa Mandarin, “知识蒸馏” (Pengetahuan Distilasi), bahkan menjadi permainan kata yang cerdas, merujuk pada proses transfer pengetahuan dari model AI besar ke model kecil, sekaligus pada proses distilasi dalam pembuatan minuman keras .

Simbol Kejayaan di Tengah Ambisi

Puncak popularitas AGI Bar terjadi pada Januari 2026, ketika Zhipu AI (Z.ai) menjadi pengembang large language model pertama di dunia yang melantai di bursa saham . Alih-alih merayakannya di hotel mewah, perusahaan memilih untuk mentraktir seluruh minuman di AGI Bar selama lima hari berturut-turut . Gong seremonial yang digunakan dalam perayaan IPO tersebut kini dipajang dengan bangga di pintu masuk, menjadi simbol kejayaan dan ambisi komunitas .

Namun, di balik gong kejayaan itu, tersimpan realita bisnis yang keras. Song De mengakui bar ini “benar-benar merugi.” Jumlah minuman yang diberikan secara gratis diperkirakan 10 kali lipat lebih banyak daripada yang terjual . Ini bukan sekadar masalah manajemen sebuah bar, melainkan cerminan dari dilema ekonomi yang lebih besar yang dihadapi oleh seluruh ekosistem AI Tiongkok.

Paradoks Ekonomi “Open-Weight”

Kisah AGI Bar adalah analogi sempurna dari strategi nasional Tiongkok di bidang AI: menjadikan kecerdasan buatan sebagai komoditas. Strategi ini bertujuan untuk menekan harga model AI global, menanamkan model-model Tiongkok ke dalam alur kerja pengembang global, dan menjadikan AI sebagai kepentingan strategis nasional . Hasilnya, model-model open-weight Tiongkok menguasai pangsa pasar. Pada awal 2026, model-model asal Tiongkok menyumbang 5,3 triliun dari 8,7 triliun token yang dilayani melalui 10 model teratas OpenRouter .

Namun, di balik dominasi ini, terdapat masalah mendasar: model open-weight tidak menghasilkan pendapatan yang cukup bagi para pengembangnya. Ketika sebuah perusahaan seperti Zhipu merilis parameter modelnya secara gratis, perusahaan lain dapat mengunduh dan menjalankannya. Penyedia cloud seperti Alibaba dapat menghostingnya. Klien korporat dapat menjalankannya di server mereka sendiri demi keamanan data. Lab yang menghabiskan ratusan juta untuk melatih model tersebut hanya menerima sedikit atau bahkan tidak ada pendapatan berkelanjutan dari pengguna yang mereka ciptakan .

Data keuangan Zhipu AI menggambarkan situasi ini dengan gamblang. Perusahaan melaporkan pendapatan sekitar US$107 juta untuk tahun fiskal 2025, namun mencatat kerugian bersih hampir US$500 juta—kehilangan beberapa dolar untuk setiap dolar yang dihasilkan . Margin kotor pada segmen on-premises bahkan anjlok ke -0,4% pada paruh pertama 2025, karena pemenuhan proyek kustom membutuhkan komputasi mahal yang tidak tertutup oleh harga jual .

Antara Visi dan Realita: Ke mana arah AGI Bar?

Meskipun merugi, Song De tidak menyerah. Ia telah mengotomatisasi sebagian besar operasional bar menggunakan AI, termasuk sistem inventaris, reservasi, dan manajemen utilitas . Ia berencana untuk memperluas bar di Beijing pada tahun ini dan menggunakan robot humanoid untuk melayani pelanggan . Cabang di Shanghai pun telah dibuka pada Juni 2026 .

Visi ini sejalan dengan semangat nasional. Bagi Song De, penemuan AI adalah tonggak sejarah yang lebih penting daripada Revolusi Industri . Namun, seperti yang ditunjukkan oleh anjloknya saham Zhipu hingga 28% dalam satu hari pada Juli 2026 ketika periode lock-up berakhir, pasar pada akhirnya menuntut profitabilitas .

Pertanyaan besarnya adalah: Bisakah sebuah gerakan budaya dan strategi nasional bertahan tanpa pondasi ekonomi yang sehat?

AGI Bar mungkin adalah ujian terkecil dari pertanyaan besar itu. Jika sebuah bar dengan konsep brilian dan popularitas tinggi pun kesulitan menghasilkan uang, apa yang akan terjadi pada perusahaan-perusahaan AI raksasa yang dibangun di atas fondasi serupa? Untuk saat ini, para pengunjung AGI Bar dapat menikmati bir, token gratis, dan euforia seolah-olah AGI sudah di depan mata. Namun, di balik buih bir yang memabukkan, realita ekonomi mulai terasa pahit.


Analisis ini adalah hasil investigasi independen Neorix.id berdasarkan data dan laporan terkini mengenai ekosistem AI Tiongkok dan fenomena AGI Bar.

Share This Article