Lebih dari 80 properti dan 1.000 barang mewah akan dijual bertahap mulai September 2026 hingga pertengahan 2027.
NEORIX.ID — Singapura akan melelang lebih dari 80 properti real estat dan lebih dari 1.000 aksesori mewah yang disita dalam kasus pencucian uang terbesar dalam sejarah negara tersebut . Pelelangan yang melibatkan aset senilai S$3 miliar (sekitar Rp42 triliun) ini dijadwalkan berlangsung secara bertahap mulai 7 September 2026 hingga pertengahan 2027 .
Kasus besar ini terungkap setelah penggerebekan di sejumlah lokasi di Singapura pada Agustus 2023, yang membongkar jaringan perjudian ilegal berbasis di Asia Tenggara . Sepuluh pelaku yang seluruhnya berasal dari China—meski sebagian memiliki kewarganegaraan lain—telah divonis bersalah, menjalani hukuman, dan dideportasi .
Pelaksana Lelang dan Mekanisme Penjualan
Firma konsultan Deloitte ditunjuk oleh Kepolisian Singapura sejak Juli 2025 untuk mengelola dan merealisasikan aset non-tunai yang disita . Dalam proses ini, Deloitte menggandakan sejumlah mitra:
- Properti real estat akan dilelang oleh firma properti SRI, Edmund Tie & Company, dan Knight Frank .
- Barang mewah berupa perhiasan, jam tangan, dan tas tangan akan ditangani oleh rumah lelang Hotlotz .
- Sejumlah properti pilihan akan ditawarkan melalui mekanisme Expression of Interest (EOI) yang dikelola List International Realty di luar proses lelang konvensional .
Barang Mewah yang Dilelang
Hotlotz menjadwalkan 15 lelang daring untuk barang-barang mewah tersebut dari September 2026 hingga Mei 2027 . Dua lelang perdana akan dibuka pada 7 September 2026 pukul 10.00 waktu Singapura .
Lelang pertama (tutup 20 September) akan menampilkan tas dan aksesori dari merek Chanel, Louis Vuitton, dan Christian Dior. Lelang kedua (tutup 27 September) menawarkan perhiasan dari Graff, Bulgari, dan Van Cleef & Arpels dengan total estimasi pra-lelang S$2,9 juta–S$3,9 juta . Kedua lelang awal ini mencakup lebih dari 300 tas dan aksesori serta lebih dari 250 perhiasan .
Salah satu barang yang menjadi sorotan adalah cincin berlian kuning 15,02 karat dengan estimasi harga S$200.000 hingga S$300.000, serta tas tangan Louis Vuitton edisi khusus Yayoi Kusama bermotif labu . Lelang berikutnya akan mencakup tas Hermès serta jam tangan mewah dari Patek Philippe, Richard Mille, dan Rolex .
Pendiri sekaligus CEO Hotlotz, Matt Elton, menegaskan proses penjualan akan tetap berfokus pada nilai dan kondisi barang, bukan sensasi kasusnya. “Tujuan saya menjual semuanya dengan cara yang paling adil dan transparan kepada pasar seluas mungkin,” ujarnya .
Properti Mewah dengan Diskon Tajam
Meskipun sektor properti mewah Singapura dan pasar hunian pribadi secara umum terus mengalami kenaikan, beberapa properti sitaan diperkirakan akan dijual dengan diskon besar dibandingkan harga tinggi yang sebelumnya dibayarkan oleh kelompok ilegal tersebut .
Beberapa penjualan aset bahkan didorong oleh bank yang sebelumnya memberikan pinjaman kepada kelompok tersebut. Salah satu properti yang menjadi sorotan adalah sebidang tanah menghadap laut di Sentosa yang akhirnya terjual kepada pembeli lokal dengan harga sekitar S$22 juta—hampir separuh dari harga pembelian awalnya .
Otoritas Singapura sebelumnya menyita lebih dari 200 properti, banyak di antaranya terletak di lokasi strategis seperti Orchard Road dan Sentosa . Beberapa aset seperti mobil mewah dan properti residensial maupun komersial telah mulai dilikuidasi lebih dulu .
Lelang Terbuka untuk Peserta Global
Pelelangan terbuka bagi peserta dari berbagai negara, namun setiap calon pembeli wajib mendaftar dan lulus verifikasi identitas sebelum dapat mengajukan penawaran . Peserta yang lolos verifikasi juga dapat memesan jadwal untuk melihat barang secara langsung di Le Freeport, fasilitas penyimpanan berkeamanan tinggi di kawasan Changi—hanya berdasarkan janji temu dan tidak menerima kedatangan tanpa jadwal .
Harga awal setiap barang akan mengacu pada hasil lelang barang sejenis, bukan harga saat pertama kali dibeli atau harga pasar sekunder .
Pelajaran bagi Indonesia
Penanganan kasus ini menjadi perhatian tidak hanya bagi Singapura tetapi juga kawasan, termasuk Indonesia . Model penanganan yang diterapkan—mulai dari penggerebekan, vonis, hingga likuidasi aset—menunjukkan bahwa penegakan hukum tidak berhenti setelah pelaku dijebloskan ke penjara, tetapi berlanjut pada pemulihan dan penguasaan hasil kejahatan. Hasil likuidasi aset non-tunai kemudian diarahkan masuk ke Consolidated Fund pemerintah Singapura .
Pelepasan aset bernilai triliunan rupiah ini menegaskan komitmen otoritas Singapura dalam membersihkan sistem keuangan dari intrusi dana ilegal, sekaligus memulihkan kerugian finansial yang ditimbulkan dari kejahatan lintas negara .
Sumber: Kontan, Bloomberg, CNA, SCMP, The Business Times, SINDOnews, dan berbagai sumber lainnya.
Editor: NEORIX.ID
